disada tikki di najolo taronjor do roha asa boi hatop mangoli, hape aha ma na masa? taon salpu taon umur lam magodang, dang dihilala soadong dope na hot di roha on.. se torus ma "jomblo" iba.. sahat u andigan inna roha do nian. dang na so adong nian anakboru na boi ririton alai dang hot di roha, anggo holan na gabe mambaen status do asa adong sianggarhononniba tu akka dongan boi do nian baenon adong hallet niba, alai aha ma lapatannya molo so makkuling do roha, ai roha i do na rumingkot asa molo rap mardalan iba doot ibana boi sonang roha jala boi gabe dongan boanon mangalakka tu joloan ni ari ima lapatanna gabe boi ma parsonduk niba.
sipata sae adong do hata ni akka dongan na mandok iba na papillit hu, hape na so diboto halaki do na ikkon manat iba mangalului na di iba, alana dang boi situlluk igung ni horbo iba, ai gabe i do haduan dongan niba mangolu sahat tu hamatean pasiranghon. ikkon ibana do dongan sapartinaonan, dongan rap mekkel dohot tangis jala dongan martangiang mangido dohot mamuji-muji Debata. toe ma tahe, sipata ikkon paula so binege ma akka hata ni halak, ai ikkon do memang borua pilihan na di roha niba, natape dang ikkon se umbagak sian borua na asing, anggo habagakon dohot haulion i relatif doi, roha i do rumingkot dohot songonon dia pangalaho na tu iba dohot tu natua-tua niba, jala sada narumingkot ima ikkon do ibana borua na mabiar tu Debata, na mangaluhon akka holso ni ngoluna marhite tangiang tu Debata, na boi gabe sipangapuli di iba dohot di akka keluarga niba.. oh Tuhan Debata, begei ma holso-holsoni si doli on.. Amen
guys... kemarin aq pulang ke siantar naik Intra coyyy..
eh, pas bus udah lewat di tebing aq ditelpon mamak.. katanya sianta udah ujan jadi si bungsu kami gak bisa jemput, "naik bedak aja" kata mamak.
alhasil sesudah sampe di stasiun Intra yg di dekat ramayana aq dan seorang kenalan yg kebetulan calon istrinya boru silalahi menawar becak dan terjadilah kesepakatan. alangkah terkejutnya aq ketika becak kami melintas jalan Pattimura dan melihat jalanan banjir, sampe2 tukang becak kami itu mutar jalan untuk menghindari banjir. kok bisa ya siantar yg dulu jarang kali banjir sekarang sudah langganan banjir di beberapa titik,.. dan teringatlah aq waktu taon lalu jalan2 ke daerah yg dulunya areal persawahan ternyata sudah banyak dibangun rumah2 mewah.. artinya berkuranglah sudah daerah resapan air ditambah lagi pembangunan di pusat kota tidak lagi memperhatikan tata cara pembangunan yg baik yang tidak mengindahkan sistem irigasi (parit). dulu waktu kecil di siantar ketika hujan datang kami selalu senang mandi hujan dan memperhatikan lancarnya air mengalir dengan derasnya di parit. tapi apa yg kuperhatikan sekilas ketika hujan semalam?? ada genangan di parit, artinya tidak lancarnya air yg mengalir menuju sungai sebagai pembuangan terakhir dari parit2 tersebut..
guys... gimana ini..?? apa aksi kita. apakah siantar akan menjadi seperti kota Medan nantinya?
sumpah.. sejak gw sering2 dengar audio motivasi dari Tung Desem Waringin dan yg laen2 bikin gw smakin pengen kluar dari kerjaan ini.. dalam hati gue terngiang kata2 yg bilang klu gue terlalu berharga utk berkutat dsini (maaf, bukan gue sombong ataupun gak tau diri) tapi emang bener jg kata2 motivator itu dna jg emang di Alkitab dikatakan bahwa kita kudu nguasain dunia ini, nah klu dsini aja trus gak bakalan bisa maju.. and so why sampe sekarang gue blum ninggalin nih hotel (tmpat gw kerja)? jujur ya, gw kan masih manusia biasa yg masih memiliki rasa khawatir akan makan apa besok, tp pikiran sperti ini kudu dibuang jauh2 krn di Alkitab jg dikatakan "janganlah kamu khawatir".. hmmm,,... kata2 ini bgitu menusuk, dan lagi gw kudu punya rencana yg matang buat nentuin kemana gw melangkah ntar.. guys, gw mohon doa dan smangat klen ya... GBu all
Hari ini kugembira
Melangkah di udara
Pak pos membawa berita
Dari yang kudamba
Sepucuk surat yang manis
Warnanya pun merah hati
Bagai bingkisan pertama
Tak sabar kubuka
Satu dua dan tiga
Kumulai membaca
Surat cintaku yang pertama
Membikin hatiku berlomba
Seperti melody yang indah
Kata-kata cintanya
Surat cintaku yang pertama
Membikin hatiku berlomba
Seperti melody yang indah
Kata-kata cintanya
padaku
Ucapan semanis madu
Tiga lembar rayuannya
Rasanya tak puas hati
Kuulangi lagi
Satu dua dan tiga
Kumulai membaca
Surat cintaku yang pertama
Membikin hatiku berlomba
Seperti melody yang indah
Kata-kata cintanya
Surat cintaku yang pertama
Membikin hatiku berlomba
Seperti melody yang indah
Kata-kata cintanya
padaku
Hari ini genap 150 tahun gerejaku tercinta HKBP. Semoga semakin dewasa dalam iman dan pelayanan. Pintaku utk moment ini adalah:
1. HKBP lebih fokus melayani dan memperhatikan kesejahteraan umatnya yang miskin dan di bawah garis kemiskinan. Jangan hanya sibuk membangun gereja (dalam artian bangunan). Manfaatkan segala fasilitas yang sudah dimiliki HKBP untuk kemajuan dan kesejahteraan umat.
2. Persiapkan generasi yang unggul dengan memperhatikan Anak sekolah Minggu (ASM) dengan mendukung program-program yang membangun baik dari segi moril dan materil. Perhatikan juga insentif untukGuru Sekolah Minggu (GSM).
3. Aset HKBP yang ada jangan ditelantarkan, harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untukt kemajuan umat Kristen (bukan hanya umat HKBP) dan kemajuan organisatoris HKBP.
“Saya harap, seluruh jemaat, bila memang dia sebagai jemaat HKBP agar meninggalkan segala bentuk kepercayaan duniawi, seperti begu ganjang dan bulle-bulle. HKBP di usia ke-15o tahun, jemaat harus lebih kuat dalam menghadapi berbagai dinamika hidup serta kedewasaan tersebut harus mampu menjaga warga HKBP untuk melayani dan bukan dilayani” , demikian ucap Pdt. DR. Bonar Napitupulu (Ephorus HKBP) pada perayaan Jubileum HKBP wilayah I, di Seminarium Sipoholon, Tapanuli Utara pada hari Minggu 2 Oktober 2011.
Kekristenan telah menjamah tanah Batak lebih dari 150 tahun, tetapi memang kepercayaan duniawi masih melekat di tanah batak. Dualisme kepercayaan masih banyak ditemukan baik secara terang-terangan maupun secara diam-diam. Tidakkah cukup 150 tahun untuk merubah itu semua? Ternyata tidak cukup. Apa karena bangsa batak adalah bangsa yang keras kepala atau karena bangsa yang memiliki rasa cinta yang kuat terhadap budayanya? Tidak, itu bukan jawabannya. Mungkin jawabannya adalah karena ketakutan kita akan kemiskinan dan tidak totalnya kita percaya atau mungkin ada faktor lain. Bukan juga karena kurangnya pendidikan, karena orang batak paling menghargai pendidikan. Jadi kenapa masih banyak kita yang memiliki kepercayaan sampingan disamping tertulis di KTP sebagai Kristen. Mungkin ada yang berkata itu hanya terjadi di pedalaman tanah batak saja karena tingkat pengetahuan dan pendidikan yang dangkal, tetapi kenyataannya tidak. Orang batak yang merantau ke daerah yang lebih maju dan yang sudah mengecap pendidikan tinggi pun masih dijumpai memiliki kepercayaan kepada “begu ganjang” dan “bulle-bulle”. Pulang ke kampung halaman untuk mengadakan pesta pemanggilan roh-roh leluhur yang nyata-nyata salah ditinjau dari segi Kekristenan. Ada pula yang sukses di perantauan mengadakan pembangunan di kampung halamannya, tetapi apa yang dibangun? Membangun atau merenovasi “tugu” alias kuburan leluhur mereka, sesudah itu mengadakan pesta-pesta meriah yang berlangsung berhari-hari, menghabiskan dana di media untuk iklan tentang itu agar semua orang tahu bahwa mereka membangun sesuatu yang megah di kampung halamannya, bahwa mereka sukses dan membangun kampung halamannya dan bahwa dia orang yang beradat. Maaf, saya bukan orang yang anti adat, saya juga ikut serta berperan dan menghargai adat. Saya pernah dengar istilah bahwa orang batak lebih takut disebut tidak beradat daripada tidak beragama, benar atau tidak mari kita orang batak tanya hati kita masing-masing.
Mari kita bangun kampung halaman kita bukan dengan membangun tugu ataupun kuburan-kuburan yang megah, tetapi mari bangun di berbagai bidang seperti pendidikan, sarana dan prasarana, karena itu bukan semata-mata tugas pemerintah saja. Mari kita bangun moral dan akhlak generasi batak selanjutnya dengan berbagai hal seperti beasiswa pendidikan, seminar-seminar dan pengarahan atau juga bisa membuka usaha kecil menengah yang akan membuka lapangan kerja agar generasi kita tidak hanya ingin merantau dan meninggalkan kampung halaman kita yang kita tidak sadari memiliki potensi.
Apa yang harus kita dirubah dari kita? Pola pikir. Kita harus merubah pola pikir kita tentang apa yang kita percayai harus total kita percayai. Kita harus merubah pola pikir kita bahwakemasyuran dan kebanggaan tidak harus ditunjukkan dengan kemampuan kita membangun tugu atau kuburan besar dan megah, yang tanpa kita sadari hal itu telah membuat kita penyembah berhala.
Mari kita buang segala “bulle-bulle”, “begu ganjang” dan juga keegoisan kita demi totalitas kepercayaan kita kepada Kristus sebagai orang Kristen dan juga demi kemajuan bangsa Batak agar dihornati dan diakui keberadaannya.